Cara menghadapi orang gila dalam Islam bukan hanya soal menjaga diri, tetapi juga memahami bagaimana agama mengajarkan umatnya untuk tetap berbuat baik, penuh welas asih, dan tidak melampaui batas. Dalam kehidupan sehari-hari, kita kadang bertemu dengan orang yang mengalami gangguan jiwa, baik di jalan, lingkungan rumah, maupun tempat umum. Islam sebagai agama yang lengkap memberikan panduan etika sosial, termasuk ketika berhadapan dengan mereka yang kurang sempurna akalnya.
Pada dasarnya, Islam memandang orang gila (majnun) sebagai individu yang tidak dibebani taklif syariat. Artinya, mereka tidak menanggung dosa atas tindakan yang di luar kendalinya. Dengan pemahaman ini, kita diajak untuk melihat mereka bukan sebagai ancaman, tetapi manusia yang sedang diuji kesehatan mentalnya. Maka dari itu, tatkala membahas cara menghadapi orang gila dalam Islam, fokusnya adalah pada perlindungan diri, pemberian bantuan yang wajar, dan tetap menjunjung akhlak mulia.
1. Islam Menganjurkan Sikap Lemah Lembut dan Tidak Menyakiti
Dalam Islam, seseorang yang sedang tidak waras diperlakukan sebagai orang yang patut dikasihani. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa siapa pun yang mengalami ketidaksempurnaan akal tetap memiliki hak sebagai manusia. Kita dianjurkan bersikap lembut, tidak mengejek, tidak memukul, apalagi mempermalukan mereka.
Ketika bertemu orang gila yang bertingkah aneh di jalan, langkah pertama adalah tetap tenang. Islam mengajarkan bahwa kelembutan lebih kuat daripada kekerasan. Jika memungkinkan, jauhi interaksi yang berpotensi memicu mereka, namun tetap menjaga sikap hormat. Menjauh bukan berarti merendahkan, tetapi sebagai bentuk cara menghadapi orang gila dalam Islam yang mengutamakan keamanan diri.
2. Mengutamakan Keselamatan Diri Tanpa Melukai Mereka
Keselamatan diri adalah prioritas, dan ini sejalan dengan kaidah fikih: "Menolak bahaya lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan." Jika orang gila bertindak agresif, langkah terbaik adalah menghindar dengan sopan. Jangan terpancing emosi maupun perdebatan. Hindari kontak fisik kecuali benar-benar darurat.
Apabila orang tersebut sedang mengamuk, Islam tidak mengajarkan kita untuk membalas atau menghukumnya—karena mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Maka, cara menghadapi orang gila dalam Islam pada situasi ini adalah mencari bantuan orang yang berwenang, seperti petugas keamanan, keluarga mereka, atau pihak medis.
3. Memberikan Bantuan Jika Mampu dan Aman
Meskipun kita harus menjaga keselamatan, memberi bantuan yang ringan adalah perbuatan terpuji. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang menolong makhluk di bumi, Allah akan menolongnya di akhirat. Jika kondisi memungkinkan, kita bisa membantu dengan:
-
Memberikan makanan atau minuman
-
Menuntun mereka menjauh dari bahaya
-
Menghubungi keluarga atau panti rehabilitasi terdekat
-
Memberikan pakaian atau alas tidur jika benar-benar membutuhkan
Bantuan kecil ini termasuk bagian dari ihsan, sebuah nilai penting dalam cara menghadapi orang gila dalam Islam.
4. Tidak Menghina, Menertawakan, atau Mengabadikan Mereka
Di zaman media sosial, sering ada orang yang mengunggah video orang gila untuk hiburan. Dalam Islam, hal itu termasuk perilaku tercela. Menghina atau merendahkan orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya adalah bentuk kedzaliman.
Allah SWT melarang umat-Nya merendahkan orang lain, termasuk yang mengidap gangguan jiwa. Bahkan bisa menjadi dosa besar jika dilakukan dengan kesengajaan. Maka, salah satu cara menghadapi orang gila dalam Islam adalah menjaga lisan dan jari agar tidak menyakiti mereka, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
5. Mendoakan dan Mengharap Kebaikan untuk Mereka
Doa adalah senjata mukmin. Tidak ada salahnya mendoakan agar Allah memberi kesembuhan, ketenangan, dan perlindungan untuk mereka. Orang gila bukan musuh, mereka adalah manusia yang sedang diuji. Dengan mendoakan, kita tidak hanya menunjukkan akhlak mulia, tetapi juga menguatkan jiwa agar tetap berempati.
Beberapa ulama menekankan bahwa doa untuk orang yang diuji akalnya adalah bentuk rasa syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan kepada kita.
6. Mengingat Bahwa Mereka Tidak Memikul Dosa
Rasulullah SAW bersabda bahwa pena pencatat amal diangkat bagi tiga golongan: anak kecil, orang tidur, dan orang gila sampai sembuh akalnya. Artinya, tindakan mereka tidak dicatat sebagai dosa. Dengan memahami hal ini, kita lebih mudah berlapang dada saat mereka melakukan hal yang mengganggu.
Memahami posisi mereka di sisi syariat membantu kita bersikap proporsional dan tidak emosional. Inilah inti dari cara menghadapi orang gila dalam Islam—menggabungkan akhlak baik dengan prinsip menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Cara menghadapi orang gila dalam Islam berlandaskan sikap lembut, empati, dan kehati-hatian. Kita diperintahkan untuk tidak menyakiti mereka, tidak menghina, dan tidak membalas tindakan mereka yang berada di luar kendali. Pada saat yang sama, Islam menekankan pentingnya menjaga keselamatan diri. Jika memungkinkan, bantu mereka dengan cara yang bijak dan aman, lalu serahkan penanganan lebih lanjut kepada pihak berwenang atau keluarga.
Dengan memahami panduan Islam ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, penuh kasih, dan tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan agama.

0Komentar